Translate

Friday, January 25, 2013

tips menutupi kekurangan secara positif

..BERCERMIN DIRI..

Menutupi Kelemahan 

————————————————————————————–
Sekelompok anak bermain-main di sebuah sungai yang airnya mengalir cukup deras. Namun di sisi kanannya air kelihatan tampak tenang, menandakan kalau dibagian itu cukup dalam. Seorang yang tampak lebih dewasa alias pendamping bagi anak-anak berusia sekolah menengah itu menyuruh anak-anak berhati-hati saat mandi di bagian yang dalam.


“Hati-hati kalian, di situ dalam. Lebih baik kalian mandi di sini.” Perintahnya dengan serius. Ia lah yang memimpin anak-anak itu ke sungai. Anak-anak meminta bermain ke sungai untuk berekreasi setelah mengikuti latihan rapai (seni musik dari Aceh dengan alat musiknya berupa rebana).
Namanya anak-anak, mereka tetap saja membandel. Beberapa menaiki tebing sungai, lalu melompat satu persatu. Pendamping hanya terpelongo, tampak sekali wajah kekhawatirannya terpasang dan berjalan bolak balik sambil menahan kesal.
“Hei… ke ujung lagi lah kalian, kalau segitu aku pun berani.” Teriak salah seorang anak berambut ikal. “Percuma lah kalian anak kampung. Berenang pun nggak bisa.” Teriaknya lagi sambil berdiri di daratan.
“Sini lah kau mandi.” Balas teman-temannya sambil menceburkan diri kembali. Lalu secepat-cepatnya mereka mengayuh tangannya menepi.
“Ah, tanggung kali airnya, aku nggak terbiasa mandi di tempat yang nggak dalam kayak gini. Gak puas aku berenang.” Jawab anak berambut ikal lagi sambil berkacak pinggang.
Pendamping yang berdiri di dekat anak berambut ikal menatapnya. “Emang kau bisa berenang?”
“Ya bisa lah… berenang koq nggak bisa.” Jawabnya tanpa menoleh ke pendamping.
“Ya udah, kenapa kau nggak mandi.”
“Sebentar lagi bang, belum mood aku.” Jawabnya lagi.
Pendamping lalu kembali mengawasi anak-anak yang berenang. “Hei… udah kubilang jangan kesana, di sini aja kalian berenang. Nanti bisa tenggelam kalian.” Teriaknya lagi. Pendamping tampak semakin khawatir kalau terjadi apa-apa. Dialah yang bertanggungjawab terhadap keselamatan mereka.
Anak-anak seperti tidak punya rasa letih, mereka terus melompat, menepi, lalu memanjat tebing lagi, menceburkan diri, menyelam dan menepi. Sesekali mereka mengejek temannya yang tak berani naik ke tebing.
“Byurrr…”
Seorang anak yang baru berusaha naik ke tebing terpeleset dan jatuh ke sungai. Teman-temannya yang melihat kejadian itu asyik menertawakannya. Tak disangka kemalangan sedang menghampiri.
“Bang Edo… Bang Edo… tolong si Rizki. Dia tenggelam.”
“Bang Edo… Bang…” Anak-anak berteriak baik yang di tebing maupun yang di daratan.
“ANJING KALIAN!!!” Pendamping menjawab teriakan anak-anak sambil melompat ke sungai. Ia berenang cepat menyusul seorang anak berkulit gelap yang sudah megap dengan kepala yang timbul tenggelam.
“Tenang aja kau. Lemaskan badanmu. Jangan bergerak-gerak.” Kata pendamping dengan nafas terengah-engah.
Tangan kiri Pendamping menyangga ketiak anak itu sementara yang kanan mengayuh air agar bisa segera menepi. Begitu sampai tepian. Ia pun langsung berdiri tegak dan memandang anak-anak di tebing. Raut wajahnya masih menyimpan kekesalan. Di satu sisi ia iba melihat anak yang hampir tenggelam.
Anak-anak tampaknya bisa mengartikan gelagat tersebut dan perlahan mereka turun satu persatu. Sebagian ke daratan dan sebagian yang lain mencebur ke sungai dangkal dengan salah tingkah.
“Kan sudah abang bilang tadi. Kalian tidak mau dengar. Kalau sampai mati salah satu dari kalian, apa kalian mau bertanggung jawab hah!”
Pendamping mencoba menurukan emosinya, pandangannya pun beralih ke anak berambut ikal.
“Kau. Kenapa tidak kau tolong dia.”
“Aa… a…anu bang. Aku nggak bisa berenang.” Kata anak berambut ikal sambil tertunduk dan menahan malu.
Teman,
Walau ini kisah dari anak-anak namun ada makna yang bisa kupetik sebagai cermin untuk memperbaiki diri baik dalam bertutur kata maupun dalam bersikap.
Kadang kita sering berkata dusta hanya untuk menutupi kelemahan diri yang tidak perlu disembunyikan. Kelemahan yang kita tutupi dengan berkata seolah-olah kita mampu hanya akan menjadi bumerang tidak hanya bagi diri kita. Namun orang lain juga bisa kecipratan.
Kita merasa seolah-olah jatuh harga dirinya jika orang lain tahu kelemahan kita padahal bagi orang lain tidak ada maksud untuk merendahkan. Seharusnya kita sadar bahwa kelemahan bukanlah untuk ditutupi, namun dicari caranya agar kelemahan tersebut bisa dirubah menjadi kekuatan.
Dengan menyadari kelemahan sendiri, maka kita akan berupaya mengatasinya. Boleh jadi jika rekan-rekan dan orang terdekat mengetahui kelemahan kita, mereka akan membantu untuk mengatasi kelemahan tersebut.
Begitulah analisa cetekku menyimpulkan. Apakah teman-teman punya pendapat lain dari kisah itu? Ditunggu ya masukannya…


Terima kasih kepada sumber BERMUTU :  http://m4rp4un6.wordpress.com/2009/07/16/menutupi-kelemahan/






 

..INTROPEKSI DIRI..

Menerima Kelemahan Dapat Memperkuat Gambaran Diri

Kelemahan diri adalah musuh diri kita sendiri yang kadang tampil dan kadang bersembunyi. Banyak orang menutupi kelemahan diri dengan cara masing-masing, ada yang tetap tampil tersenyum, ada yang mengalihkan perhatian, ada yang mencari sumber kelemahan orang lain, yang jelas dan pasti adalah manusia ingin tampil sempurna seseuai dengan status dan kodratnya.
Jika kita telah mampu mengendalikan kelemahan kita sebaiknya itu dipertahankan. Kelemahan dapat menjadi suatu sumber kekuatan dan imajinasi untuk menggali kreatifitas dan ide cemerlang. Akan tetapi kita harus berhenti mencela diri sendiri, maka kita akan lebih memperhatikan faktor-faktor positif dalam kepribadian kita. Kita akan mencari hal-hal dalam diri agar kita dapat menyukai diri kita. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga sifat optimis dan selalu introspeksi diri serta positif thinking.

5 tips dibawah ini sedikit akan membantu kita dalam hal memperkuat gambaran diri :
1. Pelajari keterbatasan kita. Kita semua (anda, saya, teman) pernah mengalami putus asa, baik secara fisik maupun mental. Setiap pribadi mengalaminya secara berlainan. Ada yang bertahan dibawah segala bentuk tekanan, tetapi ada pula yang roboh dibawah tekanan yang lain. Berhentilah mencela dan mencaci diri sendiri, dan lebih baik kembali pada kebiasaan mengakui keterbatasan kita.
2. Hormati keterbatasan kita. Sekali kita sadar pada rasa putus asa, gunakan langkah ini untuk membantu diri kita sendiri. Jangan memaksa diri kita melampaui batas-batas kemampuan, hanya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa kita pemberani !! . Ini membutuhkan keberanian untuk membuat suatu keputusan atas diri kita sendiri.
 
3. Ketangguhan. Pria seharusnya tidak merasa harus menjadi pahlawan super yang jantan … kebanyakan karakter dari tipe ini adalah kreasi khayal. Kadang-kadang masalah akan bertumpuk, dan dalam keputusan kita merasa akan menangis. Pria tidak seharusnya menangis. Bebaskan diri kita sendiri dari keyakinan seperti ini!! … maka menangislah bila perlu. Buang sesal, ambil langkah.
4. Kesempurnaan. Wanita mempunyai atribut lain yang lebih berharga daripada gambaran fisik yang dapat dilihat di cermin. Bergerak dengan bebas dari suatu pemikiran kerdil yang meninggalkan luka-luka pada gambaran diri kita. Kita tidak dapat memendam luka-luka ini karena berakibat buruk pada akitivitas dalam mengimajinasikan gambaran diri.
5. Selalu bersikap sungguh-sungguh terhadap diri sendiri. Tidak ada satupun diantara kita menyukai teman yang tersenyum ketika kita kaya, namun menghilang ketika kita miskin. Anda, saya, atau teman mungkin juga pernah mengalami hal ini, disaat kita berhasil setengah langkah .. naik derajat … bagaikan semut menyerbu gula, disaat kita bangkrut atau tertimpa masalah setengah besar .. turun derajat … bagaikan singa meninggalkan tulang belulang bangkainya. Jika kita hanya mengagumi kekuatan sendiri dan membenci kelemahan, berarti kita tidak bersikap tulus. Karena semua diberikan dengan 2 hal yaitu kekuatan dan kelemahan, maka tuluslah menerimanya. Gambaran diri kita tidak akan pernah kokoh, kita tidak akan pernah bahagia. Terimalah diri sendiri ketika berada di titik terendah (dilihat sebelah mata/diremehkan bahkan dicaci atau diolok), maka kita akan mempunyai suatu dasar untuk tumbuh dan bahkan bisa lebih kuat karena penerimaan gambaran diri begitu terikat dengan diri kita sendiri.
Maka Lupakan kegagalan hari kemarin, hanya catat saja guna ambil hikmahnya, perbaiki sebaik mungkin dan lupakan ketakutan menghadapi hari esok. Pikirkan hari ini dan capai sesuatu yang berharga. Jadilah kita orang yang lebih kuat… ibarat besi .. semakin sering ditempa, semakin kuat dan tajam ..
Terima kasih atas kunjungannya, dan semoga bermanfaat buat kita semua.


Terima kasih kepada sumber BERMUTU : http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/08/menerima-kelemahan-dapat-memperkuat-gambaran-diri-475452.html


Post a Comment